Oleh : K Ng H Agus Sunyoto
![]() |
Bedah Cesar jaman Kuno |
Tidak ubahnya menonton tayangan sepak bola, warga kampung yang menonton sering bersorak mendukung pihak yang dianggap benar dan mencela pihak yang dianggap salah. Anehnya, argumen ilmiah dan alasan-alasan common sense verbalistik yang disampaikan Professor Doctor Dokter Pembela Dokter Malapraktek selalu disambut komentar-komentar negatif dan celaan oleh warga, sebaliknya pandangan dan pemaparan fakta-fakta yang disampaikan Tim Pembela Keluarga Korban Malapraktek selalu disambut sorak dukungan dan pujian.
Di tengah hiruk kegaduhan komentar warga, Sufi tua bertanya kepada Marholi yang duduk di samping dokter Dadit van Senewen,”Kamu tahu tidak, kenapa orang-orang selalu mencela argumentasi Pak Professor yang ilmiah?”
“Ya warga tidak faham argumen ilmiah yang sangat teoritik yang disampaikan Pak Professor,” jawab Marholi menjelaskan,”Yang terasa sekali dicari-cari justifikasinya, termasuk alasan terjadinya keadaan darurat yang tidak bisa diprediksi seperti bayi dalam kandungan tiba-tiba berak buang kotoran. Apa alasan itu bisa diterima dan masuk akal warga? Tentu perlu bukti riil bahwa bayi itu benar-benar berak di dalam kandungan dan di rahim ibunya terdapat sisa kotorannya. Kalau cuma argumen teoritik, mana mau masyarakat percaya?”
![]() |
Bedah Cesar Medis Modern |
“Karena pandangan Tim Pembela didasari fakta-fakta yang tidak tersanggah seperti tanda tangan palsu yang sudah diuji di laboratorium forensik Polda, dokter malapraktek tidak memiliki ijin praktek, pengakuan ibu korban bahwa saat ditawari obat yang tidak tersedia di apotik dengan alasan tidak ada uang seketika dokter bilang ”kalau tidak ada uang kenapa tidak bilang dari tadi?”, ibu kandung korban disuruh tanda tangan dalam keadaan gelap setelah operasi dilakukan,” kata Marholi.
“Tapi kesaksian ibu korban malapraktek itu kan belum bisa dibuktikan sebagai kebenaran, karena belum dilakukan uji kebenaran dengan mesin Lie Detector?” tanya Sufi tua.
“Pakde, pakde sampeyan itu bagaimana,” kata Marholi menjelaskan,”Masyarakat tidak butuh uji kebenaran dengan menggunakan mesin Lie Detector. Sebab apa yang diungkapkan oleh ibu korban malapraktek, juga dialami oleh berjuta-juta rakyat negeri ini. Tidak ada duit tidak ada pelayanan, itu sudah bukan rahasia. Pasien dibiarkan dari pagi sampai malam karena tidak ada uang tunai, tidak ada asuransi swasta penjamin, belum diketahui tingkat ekonominya sudah bukan rahasia karena dialami berjuta-juta orang di negeri kita ini.”
![]() |
Bedah Cesar Medis Modern II |
“Maaf pak dokter,” sahut Sufi tua heran,”Kenapa sampeyan bilang dokter malapraktek itu kena batunya? Memangnya tindakan membedah yang dilakukan dokter malapraktek itu rutin dilakukan?”
“Saya tidak spesifik menyatakan itu untuk dokter malapraktek kasus ini,” sahut dokter Dadit van Senewen memberikan penjelasan,”Tetapi sejak tahun 1990-an, bedah cesar sudah menjadi trend yang dilakukan oleh dokter-dokter di berbagai rumah sakit. Data bedah cesar dalam proses kelahiran bayi yang saya miliki dari tahun 1996 – 2011 menunjuk bahwa dari 100 kelahiran, 70 – 80 kelahiran melalui cesar. Dokter umum yang tidak memiliki kompetensi untuk membedah pun, dengan asumsi bedah cesar itu bedah yang kecil resikonya, melakukan bedah cesar kepada pasien-pasiennya.”
“Maaf pak dokter,” tukas Sufi tua ingin tahu,”Kenapa para dokter memilih bedah cesar daripada melahirkan secara normal?”
“Mediconomic, pakde,” sahut Daitya menyela.
“Apa itu mediconomic, Dit?”
“Mediconomic diambil dari kata Medica dan Nemein, pakde,” sahut Daitya menjelaskan, ”Maknanya, seluruh unsur Medis didistribusikan sebagai komoditas. Itu berarti, ilmu kedokteran dengan segala kompleksitas sarana dan prasarananya sudah diasumsikan sebagai produk industri yang didistribusikan sebagai komoditas. Jadi semua yang berkaitan dengan medis sudah menjadi komoditas.”
“Bagaimana pak dokter,” kata Sufi tua memandang dokter Dadit van Senewen,”Benarkah dunia kedokteran sekarang ini sudah menganut sistem kapitalis modern yang disebut Mediconomic?”
“Faktanya memang seperti itu,” sahut dokter Dadit van Senewen,”Semua tindakan medis sudah diorientasikan kepada nilai tambah ekonomi semata. Sebuah kelahiran biasa, misal, bisa diubah menjadi kelahiran lewat bedah cesar dengan pertimbangan biaya kelahiran biasa itu sangat murah, yaitu sekitar delapan ratus ribu sampai satu setengah juta. Sedang biaya bedah cesar bisa mencapai limabelas sampai duapuluh juta rupiah.”
“Bagaimana dengan kasus hukuman bagi dokter pelaku malapraktek yang digugat dokter-dokter di segenap penjuru negeri? Apakah tuntutan para dokter itu bisa dibenarkan? Apakah dengan berlindung di balik alasan-alasan prosedural medis, seorang dokter bisa bebas dari tuntutan hukum?” tanya Sufi tua.
“Alasan medis bisa dibuat untuk kasus apa saja, termasuk membenarkan malapraktek,” sahut dokter Dadit van Senewen,”Yang pasti, melegalkan dokter umum yang tidak punya ijin praktek untuk melakukan pembedahan, adalah masalah serius yang tidak bisa dijelaskan dengan bermain-main argumen bersifat verbalistik. Maksudnya, kalau semua dokter yang tidak punya ijin praktek bebas melakukan pembedahan terhadap pasien, maka kurikulum dokter spesialis bedah dihapus saja. Artinya, orang-orang seperti saya tidak perlu sekolah spesialis bedah yang membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit kalau pada faktanya setiap dokter – termasuk yang tidak punya ijin praktek – boleh membedah pasien.”
“Berarti hukuman untuk dokter malapraktek itu sudah benar ya?” tanya Sufi tua.
“Semua pekerjaan memiliki resiko,” kata dokter Dadit van Senewen tegas,”Ibarat anak kecil tidak punya SIM mengemudikan mobil yang menabrak orang hingga tewas, bisakah anak kecil itu dibenarkan dengan alasan- alasan yang didasarkan ‘teori mengemudi mobil’ yang dijelaskan sopir berpengalaman untuk membebaskan anak itu dari tuntutan?”
“Kalau dokter-dokter mogok kerja, bagaimana?” tanya Sufi tua.
“Ya biar saja tidak perlu dirisaukan, masyarakat tinggal menunggu datangnya tahun 2015,” kata dokter Dadit van senewen singkat.
“Tahun 2015?” sergah Sufi tua,”Memang kenapa dengan tahun 2015?”
“Jatuh tempo penjadwalan globalisasi,” kata dokter Dadit van Senewen memaparkan,”Yaitu datangnya dokter-dokter dari berbagai negara untuk bekerja sebagai tenaga medis di negeri kita, termasuk praktek umum melayani masyarakat.”
“Waduuh, iya ya, jadwal globalisasi,” kata Sufi tua berkomentar, “Itu berarti, dokter-dokter kita akan mendapat pesaing baru yang mungkin lebih berkualitas.”
“Sejauh yang sudah saya pantau, dokter-dokter muda di Vietnam, Thailand, Cina, India, bahkan Bangladesh lebih bagus kualitasnya. Maksud saya, mentalitas mereka dalam menjalankan profesi dokter sangat bagus karena belum dicemari Mediconomic,” kata dokter Dadit van Senewen.
“Maaf pak dokter,” sahut Pak Sunarto, RT kampung sebelah menyela,”Kalau ada dokter asing praktek di sini, saya dan warga yang sakit pasti akan memilih berobat ke dokter asing itu.”
“Memangnya kenapa pak?” tanya dokter Dadit.
“Kita sudah trauma diporotin dan diperas dokter-dokter lokal dengan aneka macam siasat yang menteror pasien,” kata Pak Sunarto apa adanya.
“Benar pak dokter,” sahut Daffi, ketua grup al-Banjari kampung sebelah,”Isteri saya minggu lalu sudah jadi korban malapraktek juga.”
“Ooo apa iya? Bagaimana ceritanya?” tanya dokter Dadit.
“Waktu usia kandungan sekitar sembilan bulan, isteri saya masuk ke rumah sakit karena merasa akan melahirkan. Setelah diperiksa, dengan aneka macam alasan medis yang tidak kami mengerti, dokter memutuskan untuk bedah cesar. Padahal, jelas sekali bahwa dia bukan dokter spesialis bedah. Akibatnya, setelah operasi cesar dijalankan, bayi dinyatakan lahir sebelum waktunya sehingga diputuskan untuk masuk incubator. Kami disudutkan dengan faith-accomply: mau anak mati atau anak masuk incubator,” kata Daffi menarik nafas berat.
“Keputusannya?” tanya Sufi tua menyela.
“Jancok! Jancok! Seratus kali jancok!” seru Daffi jengkel,”Daripada anak mati, terpaksa kami setuju bayi kami masuk incubator yang sewa dan perawatannya sehari Rp 2,5 juta. Bayangkan rek, untuk bayar operasi cesar Rp 15 juta saja, kami sudah jual motor, TV, kulkas ditambah utang ke koperasi. Ini nanti masih ditambah bayar sewa incubator yang entah berapa jumlahnya.”
Dokter Dadit van Senewen ketawa sambil mengacungkan jempol pertanda setuju dengan jalan pikiran Pak Sunarto dan Daffi. Dokter Dadit tahu bahwa dokter umum melakukan bedah cesar dengan hasil akhir bayi yang lahir ternyata belum waktunya sehingga harus masuk incubator adalah sebuah malapraktek, tetapi dalam kasus kelahiran anak Daffi bisa juga terjadi bayi lahir sudah sesuai waktu tapi harus masuk incubator karena semata-mata didasari alasan ‘uang sewa’ yang dapat menunjang dana operasional rumah sakit.
You have read this article Filsafat
with the title Post Hegemony XXX: Dokter Malapraktek Bebas Hukum?. You can bookmark this page URL https://pesantren-budaya-nusantara.blogspot.com/2013/12/post-hegemony-xxx-dokter-malapraktek.html. Thanks!
No comment for "Post Hegemony XXX: Dokter Malapraktek Bebas Hukum?"
Post a Comment