Blog Pesantren Budaya Nusantara adalah sebuah inovasi pendidikan non formal berbasis Budaya Islam Nusantara di dunia maya yang memiliki tujuan memelihara, melestarikan, mengembangkan secara inovatif warisan budaya Nusantara yang adiluhung di tengah arus gelombang globalisasi yang akan menghapus identitas etnis, budaya, bahasa, agama, negara

Post Hegemony XXXI:


SEKOLAH : Jual  Program Ilmu Mahal, Konsumen Dizhalimi

 Oleh: K Ng H Agus Sunyoto
Opspek atau Memperkosa?
      Ketika kasus mahasiswa baru mati akibat mengikuti Opspek marak di Kaskus dan Halo Malang.com serta di Fesbuk, Sufi tua yang diberitahu kasus menyedihkan itu oleh Sufi Kenthir marah-marah kepada Subali, cucu ketiganya,  yang nekad melanjutkan kuliah ke Fakultas Teknik Jurusan Otomotif. Pasalnya, Sufi tua sudah mewanti-wanti agar cucu kesayangannya itu  tidak perlu melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi setelah lulus Sekolah Menengah. Alasan Sufi tua sederhana, bahwa sekarang ini adalah zaman teknologi informasi di mana berbagai jenis ilmu pengetahuan mulai ilmu sosial, ekonomi, teknik, kimia, fisika, filsafat, sampai ilmu kedokteran bisa diakses dengan muda lewat internet. Aneka jenis buku pun sudah bisa didapat dengan harga sangat murah dalam bentuk E-Book.
    Subali yang sejak Taman Kanak-kanak sudah terbiasa belajar secara kolektif di bawah arahan dan instruksi guru, sulit menerima petunjuk kakeknya yang memintanya untuk belajar mandiri yang membutuhkan kerja keras dan keseriusan. Itu sebabnya, Subali beralasan bahwa sekolah tetap dibutuhkan karena untuk praktek kerja dan pencarian lapangan kerja setelah lulus  butuh  legalitas ijazah dari pemerintah. “Kalau belajar sendiri, bagaimana ijazahnya mbah?” kata Subali beralasan.


    “Dasar mentalmu mental buruh, karena itu kamu butuh ijazah untuk menjadi buruh,” sergah Sufi tua dengan suara tinggi,”Kalau kamu bermental majikan, kamu tidak butuh ijazah legal karena kamu mampu menunjukkan kemampuanmu dan berkarya. Kamu tahu Om Sam Hong teman bapakmu?”
    “Ya tahu mbah, om Sam Hong yang punya karoseri mobil?” gumam Subali.
Opspek atau Mempermalukan Orang?
  “Asal kamu tahu, Sam Hong itu hanya lulusan Sekolah Teknik yang sama dengan SMP. Tapi dia tekun  belajar sampai menguasai bukan saja mesin otomotif tapi juga rancangan desainnya. Dan yang paling penting, dia itu punya mental majikan. Mental Tuan. Karena itu, sekarang ini dia benar-benar jadi tuan. Dia membayari puluhan pegawai  yang punya gelar insinyur,” kata Sufi tua menjelaskan.
    “Tapi mbah, apa kata orang kalau aku tidak kuliah?” kata Subali mengeluh,”Apa kata orang kalau cucu embah cuma lulusan SMA? Malu dong mbah!”
    “Semprul temen arek iki,” sahut Sufi tua keras,”Kamu ini berpikiran kuno. Pikiranmu out of date. Kamu generasi bodoh yang tidak mengenal efisiensi waktu dan pemikiran pragmatis.”
    “Maksudnya apa mbah?” Subali bertanya heran.
    “Sekolah itu di era global dengan perkembangan teknologi informasi ini sudah tidak dibutuhkan lagi, karena setiap orang bisa mengakses pengetahuan ke mana-mana lewat cyber space. Kalau kamu punya uang, kamu bisa beli program ilmu pengetahuan apa saja. Kamu bisa ikut short course. Kamu bisa menuntut ilmu pengetahuan dengan waktu lebih singkat dan harga lebih murah,” kata Sufi tua.
    “Tapi kalau tidak sekolah kan..?”
    “Semprul kowe,” sahut Sufi tua,”Memang kamu menganggap sekolah itu apa?”
    “Sekolah?” sahut Subali tegas,”Ya lembaga pendidikan yang wajib ditempuh orang kalau mau sukses. Kalau tidak sekolah berarti akan jadi manusia bodoh, terbelakang, tidak berpendidikan, melarat, dan dihina dalam masyarakat.”
       “Semprul temen pikiranmu. Ndeso. Out of date. Pikiran katrok!” Sufi tua ketawa.
    “Lha menurut sampeyan sekolah itu apa mbah?”
Malam yang Dingin-dingin Empuk
     “Sekolah itu sama dengan Warung, Kedai, Toko, Mini Market, Café, Resto, Depot, Super Market, Plaza, Mall, Pasar,” sahut Sufi tua serius.
    “Lha kok bisa mbah?” tukas Subali terheran,”Bagaimana logikanya? Bagaimana dasar pemikirannya kalau sekolah itu sama dengan warung, kedai, toko, super market, resto, depot,plaza?”
    “Asumsi yang kamu gunakan untuk memandang sekolah selama ini sudah out of date alias ketinggalan jaman. Pikiranmu masih pikiran Wong Ndeso. Jadi perlu diubah,” kata Sufi tua ketawa.
    “Maksudnya bagaimana mbah, aku bingung,” kata Subali garuk-garuk kepala.
    “Menurutmu yang bisa diperdagangkan orang itu apa hanya barang-barang komoditas saja?”
    “Tentu tidak mbah,” sahut Subali tegas,”Jasa juga bisa jadi komoditas yang diperdagangkan.”
    “Nah, sekolah itu adalah warung dengan komoditas berupa program keilmuan tertentu  lengkap dengan buku-buku, alat peraga, laboratorium,  dan instruktur yang melayani konsumen. Program keilmuan di sekolah disebut kurikulum, instrukturnya disebut guru, dan konsumennya disebut siswa. Karena itu sekolah setara dengan warung, depot, café, kedai, toko, Mini Market kalau tingkatannya Sekolah Dasar, Sekolah Menengah dan Akademi. Tapi kalau sudah Universitas dan  Institut, maka kelasnya sudah setara dengan Plaza, Mall, Pasar,” kata Guru Sufi memaparkan.
    “Berarti mata kuliah itu sama dengan komoditas mbah?” tanya Subali mulai menangkap kebenaran di balik penjelasan kakeknya.
    “Lha kamu ikut satu mata kuliah itu gratis apa bayar?” tanya Sufi tua mendesak.
    “Ya wajib bayar mbah.”
    “Nah apa beda dengan kita pakai istilah  beli mata kuliah? Bukankah hakikatnya memang beli Mata Kuliah?” sergah Sufi tua,”Dan para guru maupun dosen, nanti kulakan komoditas ilmu yang dijualnya kepada konsumen itu dari universitas luar negeri.”
    “Kalau dipikir-pikir, sekolah itu memang seperti toko, warung, café, mall, plaza dengan semua komoditas yang ditawarkannya kepada masyarakat sebagai konsumen. Bahkan untuk beli mata kuliah tiap semester, konsumen bernama mahasiswa dibebani sewa ruang belajar yang disebut Uang Gedung, Uang Praktikum, Uang Kegiatan dan lain-lain…hmm memang mirip sekali dengan toko, warung, café, pasar, mall, plaza,” gumam Subali manggut-manggut.
    “Tapi ada beda mencolok antara sekolah dengan warung, kedai, toko, plaza, mall,” kata Sufi tua.
    “Apa itu bedanya Mbah?”
Push Up Pelajaran Wajib Opspek
   “Kalau kamu beli barang di toko, kamu akan dihormati sebagai raja. Bahkan kalau kamu jadi pelanggan, kamu akan mendapat aneka bonus dan pelayanan yang istimewa sebagai konsumen berstatus costumer,” kata Sufi tua serius.
    “Kalau beli mata kuliah di sekolah mbah?” tanya Subali ingin tahu.
    “Kamu harus ikut orientasi dulu supaya kenal orang-orang, aturan-aturan, sistem-sistem, nilai-nilai yang dianut di warung di mana kamu akan dilayani sebagai pembeli mata kuliah,” kata Sufi tua.
    “Maksudnya Opspek, mbah?”
    “Ya itu aturan warung gendeng, gila, edan, sinting, gemblung, koming, senewen,” kata Sufi tua dengan suara ditekan tinggi,”Mosok ada konsumen beli mata kuliah disuruh ikut program orientasi dulu, di mana pembeli tidak dilayani dengan baik dan dihormati malah digebuki, disuruh push up, disuruh merangkak, ditendang, disiram air got, dimarahi, dimaki-maki, diperlakukan seperti binatang. Itulah beda sekolah dengan warung, kedai, depot, resto, café, mall, plaza, pasar. Sungguh tidak tahu diri pedagang program ilmu itu, sudah konsumen disuruh membayar mahal masih dianiaya lagi.”
    “Aku faham mbah,” kata Subali ketawa,”Tapi bagaimana kalau tidak kuliah? Apa kata orang?”
    “Memang kamu hidup dari penilaian orang?”
    “Ah..ehmm..gak tahu mbah bagaimana ini,” kata Subali bingung.
    “Ingat ya Li, Bali,” kata Sufi tua mengingatkan,”Nabi Muhammad Saw itu tidak pernah sekolah. Tapi beliau diikuti dan dijadikan panutan berjuta-juta professor, doktor, insinyur, sarjana hukum, dll.”
    Subali garuk-garuk kepala ketika di benaknya terlintas untuk mundur dari perguruan tinggi seperti nasehat kakeknya. Ia bayangkan, bagaimana kalau konsumen pembeli mata kuliah itu beramai-ramai mundur, tentu pelayan toko program ilmu yang disebut dosen itu pasti kelimpungan. Bangkrut.





You have read this article Budaya with the title Post Hegemony XXXI:. You can bookmark this page URL https://pesantren-budaya-nusantara.blogspot.com/2013/12/post-hegemony-xxxi.html. Thanks!

No comment for "Post Hegemony XXXI:"

Post a Comment