Blog Pesantren Budaya Nusantara adalah sebuah inovasi pendidikan non formal berbasis Budaya Islam Nusantara di dunia maya yang memiliki tujuan memelihara, melestarikan, mengembangkan secara inovatif warisan budaya Nusantara yang adiluhung di tengah arus gelombang globalisasi yang akan menghapus identitas etnis, budaya, bahasa, agama, negara

Bahaya Doktrin Media Massa: Alat Paling Ampuh Mencipta Opini Dunia

Oleh: Muhammad Haris Suhud*)         
     
Pertempuran Lawas Dengan Senjata Manual
  Dalam film Inception (2010) karya Christopher Nolan, karakter Cobb dalam film tersebut mengatakan: “A single idea from the human mind can build cities. An idea can transform the world and rewrite all the rules.” Dengan sebuah ide, seseorang bisa untuk membangun kota dan dengan ide juga, seseorang bisa mengubah dunia dan semua peraturan yang ada. Film itu mengungkapkan bahwa sebuah ide yang ada di kepala manusia memiliki kekuatan yang sangat besar. Kalimat sederhana itu terdengar sangat janggal jika diucapkan seabad lalu. Tapi di abad ini, dimana arus informasi sangat cepat menyentuh kepala setiap orang, kalimat yang dikatakan Cobb itu harus dijadikan sebuah pembangkit kesadaran oleh semua manusia agar tidak tersesat dalam pemahaman yang keliru. Sebab tanpa disadari, sebuah informasi yang disuguhkan melalui media massa bisa mengubah pandangan, sikap, gaya hidup seluruh umat manusia di dunia.
            Era smartphone telah datang. Semua orang di manapun berada, segala informasi dengan cepat sampai di depan mata mereka. Detik ini terjadi suatu peristiwa, kurang dari lima menit kemudian, berita itu sudah siap untuk dibaca. Betapa haibatnya era smartphone! Tapi tulisan ini bukan akan mengulas tentang kecanggihan smartphone itu.

                Beberapa dasawarsa lalu, jika orang ingin membaca berita, ia harus rela keluar dari rumah dan mengeluarkan uang untuk beli koran. Hari ini tanpa keluar rumah pun, berita apa saja yang ingin dibaca dengan mudah dapat diakses tanpa beranjak dari dalam rumah—sambil minum kopi di rumah atau di dalam kamar, sekalipun baru bangun tidur—melalui jaringan internet yang sudah terpasang di setiap tempat. Akan tetapi dengan kemudahan memperoleh informasi itu, tidak serta-merta membuat semua orang mendapat pencerahan dari sebuah informasi. Sebab, informasi yang disajikan belum tentu sebuah kebenaran, tapi hanya sebuah praktik manipulasi; menggiring pemahaman ke arah tertentu.

Perang Modern Menggunakan Teknologi Smartphone
       Sering kali berita dibuat hanya untuk sebuah kepentingan. Kebenaran informasi sekarang ini menjadi barang mahal. Media massa yang harusnya mengemban tanggungjawab memberi pencerahan, kadang hanya menjadi ajang narsis. Misal, bagaimana Jawa Pos Group mengelu-elukan seorang tokoh dalam berbagai macam berita. Segala apa yang ia kerjakan sering kali tampil di salah satu halamannya. Tidak ada salahnya, toh itu perusahaan milik sendiri. Wajar jika ia memanfaatkan media itu sebagai alat promosi sebelum ia maju menjadi presiden. Bukan hanya Jawa Pos, media massa yang lainnya juga seperti itu, contohnya TV-One yang memunculkan Abu Rizal bakrie, atau Metro TV yang memunculkan Surya Paloh, yang selalu tampil elegant, smart, idealis, populis, yang sering melampaui fakta, tetapi  kerapkali  menjelekkan lawan politiknya.  Media massa melepas tanggungjawabnya dalam memberikan informasi yang faktual, tapi hanya menjadi ajang lempar fitnah untuk saling menjatuhkan. Sehingga pembaca seperti diombang-ambingkan  dalam kebingungan karena terus disuguhi berita yang syarat dengan kepentingan individual atau golongan tertentu bahkan untuk sekedar kepentingan pilpres, pilgub, pilbup, pilwali, bahkan pilkades.
Informasi yang syarat dengan kepentingan vested interest itu berseliweran setiap hari. Dengan tidak disadari, jika pembaca tidak kritis, sebuah opini atau klaim sepihak itu akan menancap dalam otak pembaca. Sehingga, manipulasi informasi akan dianggap sebagai sebuah kebenaran. Itulah kenapa sikap skeptik dalam menanggapi semua berita sangat perlu karena kejujuran dalam jurnalistik sudah menjadi barang langka di tengah orang-orang yang gila kekuasaan. Oleh sebab itu, untuk mendapat kebenaran, juga diperlukan membayar mahal yaitu dengan sikap teliti, tidak mudah percaya, harus selalu bertanya, untuk mencari sebuah kebenaran yang pasti.
              Bahaya yang ditimbulkan jika tidak bersikap kritis setiap menerima informasi adalah, seseorang akan terdoktrin oleh informasi-informasi bohong yang disebar-luaskan lewat media massa. Mengutip perkataan Philip K. Dick, “The basic tool for the manipulation of reality is the manipulation of words. If you can control the meaning of words, you can control the people who must use the words.” Dengan manipulasi penggunaan kata-kata yang digunakan dalam menyampaikan informasi akan mempengaruhi pemahaman seseorang. Ketidaksadaran manusia yang dimanipulasi itu melahirkan kebodohan massal yang setia merawat “salah-kaprah” di tengah-tengah masyarakat. Misal, setiap bulan Agustus selalu terpampang tulisan “DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA YANG KE-(sekian)” Kalimat ini adalah sebagai ungkapan perayaan kemerdekaan republik Indonesia yang telah bebas dari penjajahan. Dengan sekilas, kata-kata itu tidak ada yang salah. Tapi jika digali lebih dalam, maka akan muncul kejanggalan. Sejak kapankah Republik Indonesia pernah dijajah? Dalam teks proklamasi yang dibacakan Soekarno, sama sekali tidak menyebut kata Republik atau Negara Indonesia dalam teks proklamasi, karena Republik atau Negara Indonesia belum ada pada saat proklamasi dibaca tanggal 17 Agustus 1945. Kenapa tiba-tiba yang diperingati setiap 17 Agustus adalah Kemerdekaan  Republik Indonesia, Negara  yang sama sekali tidak pernah dijajah walau sedetik pun itu? Tentu ada manipulasi kata di sana. Secara asal-asalan dapat ditarik kesimpulan awal bahwa ada upaya De-Soekarnoisasi (Kebijakan yang diambil oleh pemerintah Orde Baru untuk memperkecil peranan dan kehadiran Soekarno dalam sejarah dan dari ingatan bangsa Indonesia. 2013, Wikipedia) yang dilakukan oleh Soeharto yang kemudian disebar-luaskan dalam media massa waktu itu.
            Manipulasi kata juga terjadi dalam pemberitaan terkait negara Belanda yang akan meminta maaf kepada Indonesia terhadap kasus pembantaian yang dilakukan kapten Raymond Westerling pada tahun 1947-1949, yang Sulawesi Selatan menelan korban  40.000 jiwa manusia. Dalam berita itu pemerintah Belanda menggunakan kata ‘eksekusi’ daripada ‘pembantaian manusia’. Padahal jelas, antara eksekusi (executie)  dan pembantaian (massamoord) itu dua kata yang berbeda makna. Meskipun korban sama dibunuh, tapi eksekusi (executie) adalah proses pembunuhan yang telah melalui jalur hukum, sementara pembantaian (massamoord) adalah menjagal manusia secara massal tanpa proses hukum. Kutipan dari kata eksekusi  itu begini: “ Kita berbicara tentang kejadian mengerikan dalam kasus yang spesifik yang mengakibatkan eksekusi.” Kata Rutte, menteri Belanda. (Kompas.com, 1 september 2013).
           Yang paling mutakhir adalah ketika beberapa media massa menyebutkan Amerika akan menyerang Suriah dengan alasan misi penyelamatan kemanusiaan karena pemerintah berkuasa di sana telah membunuh rakyatnya dengan senjata kimia. Apakah demikian kebenarannya? Ternyata, berita-berita itu hanya manipulasi yang dilakukan oleh Amerika saja, demi mendapatkan legitimasi agar bisa menyerang Suriah.  Kemudan menguasai kekayaan alam negera tersebut. Sebelumnya, Amerika telah berhasil menghancurkan Irak dengan alas an yang sama, yaitu Saddam Hussein menyembunyikan senjata kimia, demi meraup keuntungan dari kekayaan alam di sana. Fakta kebohongan George Bush yang menipu public dunia itu terungkap sewaktu Saddam Hussein jatuh dan dieksekusi mati, tidak satu gram pun senjata kimia ditemukan di Irak. Tapi karena berbohong dan menipu adalah nilai kemuliaan bagi bangsa yang menganut pemikiran pragmatism seperti Amerika, maka kebohongan Presiden Bush itu dianggap sebagai kemuliaan karena telah mendatangkan keuntungan besar bagi Amerika.
          Begitulah cara media menggiring secara pelan-pelan dan dengan cara lembut menanamkan pemahaman dalam kepala manusia di seluruh dunia. Media massa adalah alat paling ampuh yang digunakan untuk mempermudah menguasai dunia. Di sinilah kebenaran kata-kata Cobb yang disebutkan di awal tulisan ini; bahwa ide yang di sampaikan melalui media massa itu memiliki dampak besar terhadap tatanan dunia.
*)MOHAMMAD HARIS SUHUD, adalah Santri Pesantren Global Tarbiyyatul Arifin Malang.



You have read this article Sejarah with the title Bahaya Doktrin Media Massa: Alat Paling Ampuh Mencipta Opini Dunia. You can bookmark this page URL http://pesantren-budaya-nusantara.blogspot.com/2013/09/bahaya-doktrin-media-massa-alat-paling.html. Thanks!

No comment for "Bahaya Doktrin Media Massa: Alat Paling Ampuh Mencipta Opini Dunia"

Post a Comment